Tittle : A Whole New World
Main Cast : Wookie, Kyuhyun.
Soundtrack : You're My Endless Love, Just You, The One I Love, A Whole New World (Peabo & Regina) + You Are So Beautiful (thank you^^) & Marry You
Part 3: The One I Love
Kyuhyun terbangun dari tidur panjangnya. Matanya melihat seisi ruangan. Ia sama sekali tak mengenali ruangan ini. “Di mana ini? Apa yang terjadi padaku?” pikirnya saat melihat masker oksigen di atas wajahnya. Ia menaikan tangan kirinya, namun ada selang infus di sana. Kemudian ia teringat akan kejadian yang dialaminya bersama teman-teman sepulang kelulusan sekolah.
“Kecelakaan itu..” batinnya.
Lalu ia melihat ke arah tangan kirinya seorang gadis yang tertidur sambil menggenggam tangannya.
“Wookie ah...” Ucapnya pelan. Hatinya sangat gembira mendapatkan orang yang ia cintai berada di sampingnya.
Wookie merasakan di ruangan itu ada ‘pergerakan manusia’. Ia terbangun, melihat mata Kyuhyun telah terbuka.
“Kyuhyunnie...” Ucapnya sambil tersenyum dengan mata sembab karena semalaman menangis. “Kau sudah sadar?”
Kyuhyun hanya tersenyum, karena mulutnya terasa sulit untuk mengucapkan kata-kata.
“Yah, aku panggil dokter sebentar,” Ucap Wookie sambil berjalan keluar ruangan.
Saat Wookie ke luar ruangan, Kyuhyun merasakan hal yang berbeda. Meskipun orang yang pertama ia lihat adalah kekasihnya, namun sebenarnya hati Kyuhyun sangat sedih. Yang ia inginkan saat itu adalah Wookie, orang yang ia rindukan, memeluknya. Namun Wookie tidak melakukan itu. Ia malah memanggil dokter. Ia mencoba berpikir logis, bahwa Wookie melakukan itu karena mempedulikan dirinya juga. Mungkin memang prosedurnya seperti itu.
Tak lama, dokter datang dengan beberapa suster. Mereka memeriksa Kyuhyun, melepaskan masker oksigennya.
“Ini keajaiban, kau koma selama 3 tahun, dan kali ini kau sudah sadar... Selamat Tuan Cho,” Ucap Dokter.
“Mwo? 3 tahun?” Kyuhyun terkejut. “Benarkah itu, Chagi?” tanya Kyuhyun perlahan pada Wookie.
Wookie tersenyum, “Aku akan menelepon paman dan bibi...” Wookie ke luar ruangan dan menelepon kedua orang tua Kyuhyun.
Sekitar setengah jam kemudian, kedua orang tua Kyuhyun datang. Mereka tampak bahagia karena putranya telah sadar. Mereka memeluknya. Sementara Kyuhyun sendiri masih terheran-heran. Ia benar-benar tak percaya akan hal itu. 3 tahun tak sadarkan diri? Namun yang paling ia syukuri, tak seorang pun dari mereka yang membiarkannya mati. Tanpa terasa, air matanya menetes.
“Yah, Kyuhyun... Kau harus berterimakasih pada Wookie ah... Dialah orang yang menolak dengan tegas saat kami memutuskan untuk merelakanmu,” Ucap ayah.
“Benarkah itu, Chagi?” tanya Kyuhyun.
“Benar, nak... Wookie bahkan tidak melanjutkan kuliahnya, demi mencari uang untuk biaya pengobatanmu,” Tambah ibu.
“Paman, bibi.. tak perlu begitu..” Wookie tersenyum malu mendengar kata-kata orang tua Kyuhyun.
“Terimakasih, Chagi...” Kyuhyun menggenggam tangan Wookie. “Ngomong-ngomong, kau bekerja sebagai apa?” tanyanya.
“A, aku... aku...” Wookie ragu menjawabnya.
“Sekarang, Wookiemu sudah menjadi artis terkenal,” Jawab Ibu.
Kyuhyun terkejut. Ia tak dapat mengatakan apapun. Ia menatap Wookie dari kepala hingga kaki. Memang banyak perubahan dalam fisik Wookie. Rambutnya yang awalnya berwarna coklat muda, sekarang menjadi hitam. Penataan rambutnya lebih rapih dan stylist. Pakaiannya yang biasanya sederhana, hanya kaos dan celana pendek, saat ini ia menggenakan tank top hitam dipadu cardigan jaring warna merah. Celana yang ia gunakan pun tampak mengkilap.
Sejak sadar, ia baru menyadari perubahan itu. Bahkan ia heran, apakah yang ada di hadapannya ini masih Wookienya?
“Ehm, baiklah, rasanya kalian belum terlalu banyak bicara... Kami tinggalkan kalian berdua, yah!” Ucap ayah.
“Yeobo... Aku masih merindukan putra kita...” Ibu menolak pergi.
“Ayolah, tak lama lagi , Kyuhyun akan pulang.... Artinya, akan memiliki lebih banyak waktu dengan kita. Ibu tahu, kan, Wookie sangat sibuk...”
“Baiklah...Kami tinggal, ya...” Pamit ibu.
Sepeninggalan mereka, keduanya terdiam. Sama sekali tak ada kata-kata yang diucapkan, hingga Kyuhyun akhirnya membuka pembicaraan. “Wookie ah... 3 tahun itu, lama sekali, yah!” Ucapnya. “Aku bahkan tak tahu, apa yang terjadi selama 3 tahun ini. Kau banyak berubah..” Ucapnya sambil tersenyum. “Apakah 3 tahun ini kau menemukan orang yang lebih baik dari aku?” tanyanya.
“Ehm... Aku..”
“Ya?” Ucap Kyuhyun.
“Wookie ah...” pintu kamar Kyuhyun terbuka. Seorang laki-laki berambut coklat, dengan kaos hitam dan celana panjang yang berwarna senada dengan atasannya, memakai tas ransel di punggungnya, muncul dari balik pintu. Dia membuat Kyuhyun dan Ryeowook terkejut. Sebaliknya, ia pun terkejut melihat Kyuhyun sadar. “ah.. Kyuhyun Sshi....” Ucapnya. “Kau sudah sadar?”
Kyuhyun terkejut. Ia bahkan tak mengenali orang yang memanggil namanya itu. “Anyeong.. maaf, Anda siapa?” Ucapnya sambil tersenyum.
Laki-laki itu menunduk. “Kim Jongwoon Imnida. Aku manajer Wookie, ehm, mantan manajer,” Ucap Jongwoon.
Entah mengapa, hati Wookie sangat sakit mendengar itu. Matanya kembali berkaca-kaca.
“Aku datang ke sini untuk pamit, itu saja. Aku telah berhenti dari rumah produksi itu, Jadi aku datang ke sini untuk pamit,” Ucap Jongwoon. Ia mengulang-ulang kalimat yang ia ucapkan karena gugup.
“Arasso...” Ucap Kyuhyun. “Terimakasih karena telah menjadi manajer Wookie”.
“Tak perlu sungkan,” Balas Jongwoon. “Wookie ah, aku pergi dulu, selamat tinggal,” Ucap Jongwoon pada Wookie. “Kyuhyun Sshi, selamat atas kehidupanmu yang baru. Kau beruntung memiliki Wookie,” Ucapnya sambil menutup pintu.
Kembali ruangan itu menjadi sunyi. Wookie terlihat kaku. Tangannya mengepal di atas kedua lututnya. Ia duduk di kursi dengan posisi tegap. Tatapannya kosong, namun terlihat bahwa matanya berkaca-kaca.
Kyuhyun bingung melihat Wookie seperti itu. Ia mencoba membaca situasi. Dadanya terasa berat saat memikirkan kemungkinan yang terjadi, “Woo..”
“Ehm... Kyuhyunnie, aku ke luar sebentar, ya..” ucapnya dengan suara bergetar, sambil berdiri dari kursi dan pergi sebelum Kyuhyun mengucapkan sesuatu. Ia bahkan tak melihat tangan Kyuhyun yang mencoba meraih tangannya agar ia tak pergi.
Kyuhyun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan diri dan mencoba untuk tersenyum, menerima setiap kemungkinan yang terjadi.
Tepat di luar ruangan, saat menutup pintu kamar, air mata Wookie jatuh tak terbendung. Ia berlari ke luar rumah sakit untuk mencari Jongwoon, namun tak menemukannya.
1 jam.... 2 jam.... Wookie tak kunjung kembali. Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk tidur. Beberapa jam kemudian, Kyuhyun membuka matanya. Antara sadar dan tidak. Ia melihat seorang gadis dengan gaun putih. Rambutnya berwarna coklat kepirangan, persis sosok dalam mimpinya, yang tak pernah menampakan wajahnya, yang selalu terlihat menangis untuknya.
Tak lama, gadis itu berbalik ke arahnya. Mata mereka bertemu, dan sang gadis tersenyum. “Kyuhyun ah, kau sudah bangun?” Sapanya.
“Kau siapa?” tanyanya dengan wajah terkejut.
“Lupa pada Noona?” Gadis itu mendekat.
“Minnie Noona?” Ucapnya tak percaya.
Minnie tersenyum dan mendekat sebelum akhirnya memeluk laki-laki yang sudah seperti adikknya sendiri itu.
“Sejak kapan Noona ada di sini?” tanya Kyuhyun.
“Sejak kau sedang tidur..” jawab Minnie, melepaskan pelukannya dan duduk di kirsi sebelah tempat tidur Kyuhyun.
“Noona, ada yang ingin kutanyakan...” ucap Kyuhyun, dengan wajah serius. Minnie mendekat dan melihat wajahnya dengan tatapan serius pula. “Wookie, apakah dia dan manajernya itu...”
“Itu hanya gosip,” Potong Minnie ketus.
Melihat reaksi Minnie yang seperti itu, Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Ia semakin curiga.
Sementara itu, Wookie tengah mencari Jongwoon ke tempat yang mungkin dia kunjungi. Apartemennya sudah ia tinggalkan. Ia pergi ke bar tempat mereka biasanya merayakan kemenangan Wookie, lagi-lagi ia tak ada di sana. Wookie putus asa. Nomor telepon Jongwoon pun tidak aktif. Benarkah ini akhir dari semuanya? Apakah ia benar-benar tidak akan bertemu dengan manajernya itu?
Wookie mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air matanya tak dapat berhenti sejak tadi. Pikirannya kacau. Kyuhyun sadar disaat ia merasakan adanya perasaan lebih terhadap sang manajer, saat perasaannya pada Kyuhyun ingin ia lupakan.
Ia berhenti di sebuah gedung tempat rumah produksinya berada. Berjalan memasuki gedung itu dan menaiki lift sampai ke lantai 7. Di sana ada sebuah ruangan, ruangan sang manajer. Tempat yang biasa mereka habiskan untuk bersama, baik untuk menciptakan lagu, maupun berdiskusi, bahkan check sound. Terdapat sebuah piano dan keyboard yang tersambung ke komputer. Itu biasa digunakan Jongwoon untuk membuat arrangement.
Pintunya tidak terkunci. Wookie masuk dan duduk di atas kursi, tempat biasa ia duduk. Ia benar-benar belum percaya, bahwa hari esoknya tak akan bersama Jongwoon lagi.
Ingatannya kembali ke saat pemimpin rumah produksi memecat Jongwoon. “Mengapa tidak membiarkan aku yang dipecat? Mengapa harus mengorbankan diri untukku?” Tangis Wookie.
Matanya tertuju pada sebuah agenda berwarna hitam, berukuran sekitar 20x14cm. Ia mengambil agenda itu dan membukanya.
Milik Jongwoon. Jongwoon menempelkan beberapa foto Wookie yang ia ambil diam-diam, baik saat Woookie tertidur pada sesi latihan, maupun saat ia sedang serius. Ada catatan perhitungan jumlah album yang laku terjual, jadwal show/performance, sampai beberapa tulisan, yang mungkin adalah lagu ciptaannya.
Itu membuat Wookie tersenyum. Namun hati Wookie kembali sakit saat ia melihat tulisan Jongwoon yang ada di halaman agak akhir.
“Just love me once
There is not one thing you should forget
For just a moment think about me, just that
It is barely just to that extent”
*Lagunya SuJu: “Just You”/”Geugotpoonieyeo”; Ceritanya pake Hangul*
Air mata Wookie yang hampir surut karena foto-foto yang Jongwoon tempel, kembali menetes karena kata-kata di buku itu.
“Wookie ah..” Suara seorang wanita dari luar pintu.
“Hyukkie eonnie?” ucapnya terkejut. Ia segera menyeka air matanya.
Wanita yang dipanggil ‘Hyukkie Eonnie’ itu menghampirinya dan memeluk Wookie, mengelus kepalanya.
“Dia sudah pergi, eonnie.. Eonnie tahu, kemana dia pergi? Kapan ia akan kembali?” tanya Wookie di sela tangisnya.
“Maafkan aku, Wookie,” Sahut Hyukkie. “Kau sangat kehilangan dia, yah?” tanyanya. “Kau jatuh cinta padanya, Wookie?”
“Eonnie...” Wookie terisak. “Mengapa aku baru menyadarinya saat ia sudah pergi. Dan mengapa harus disaat Kyuhyun sadar?” Ucapnya dalam tangisan yang tak dapat ditahan lagi. “Aku seperti diminta untuk memilih, Kyuhyun atau Jongwoon Oppa”.
“Tapi saat ini kau tak harus memilih, Wookie.. Kyuhyun sudah sadar, dan Jongwoon sudah pergi,” Ucap Hyukkie, mencoba menguji Wookie.
“Tapi aku telah mencintai Jongwoon Oppa...”
“Kau sudah memilih, kan?” Ucap Hyukkie, bijak, sambil tersenyum.
“Tapi bagaimana dengan Kyuhyun, eonnie?”
“Tunggulah saat yang tepat, baru kau katakan itu padanya,” Ucap Hyukkie.
Hari itu, Wookie memutuskan untuk kembali menyimpan hatinya. Ia tak akan memberikannya pada Kyuhyun. Ia akan menyimpannya untuk Jongwoon, yang sekarang entah berada dimana dan tak tahu kapan akan kembali.
*TBC*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar