Kamis, 10 Maret 2011

A Whole New World - Ch 2: Just You

Tittle : A Whole New World

Main Cast : Wookie, Kyuhyun.

Soundtrack : You're My Endless Love, Just You, The One I Love, A Whole New World (Peabo & Regina) + You Are So Beautiful & Marry You



Part 2: Just You


Setelah hampir dua tahun menjalankan profesinya sebagai penyanyi, jadwal Wookie menjadi sangat padat, sehingga ia jarang menjenguk Kyuhyun. Sementara Minnie tetap memegang janjinya pada Wookie untuk merawat Kyuhyun selama Wookie tidak bisa bersamanya.

Sepulang kuliah, Minnie langsung ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kyuhyun, menemaninya, dan melaporkan pada Wookie tentang keadaannya. Ia dan Kyuhyun memang bersahabat sejak kecil, sedangkan Wookie baru mereka kenal saat kelas 4 SD, dimana ia menjadi siswa baru di sekolah mereka.

Sejak orang tua Wookie membuka memperluas bisnis mereka sampai ke luar negeri, mereka menitipkan Wookie kepada orang tua Minnie. Wookie sangat berhutang budi pada orang tua Minnie yang juga memberi kasih sayang padanya. Sementara Minnie, yang hanya dari keluarga biasa, kehidupan mereka dibiayai sepenuhnya oleh keluarga Wookie, sehingga Minnie merasa berhutang budi juga. Ia tak pernah keberatan jika Wookie memintainya tolong. Bukan karena hutang budinya, tapi ia juga telah menganggap Wookie dan Kyuhyun seperti saudara kandungnya sendiri.

Sesekali, Wookie meneleponnya untuk menanyakan keadaan Kyuhyun. Hampir tiap hari ia melakukannya. Namun semakin lama frekuensinya semakin jarang. Bahkan bulan ini, Wookie tak meneleponnya sama sekali. Namun Minnie mengerti betapa sibuknya Wookie. Terlebih, tak lama lagi Wookie akan segera melakukan ‘Tour Asia’.

Suatu hari, terdengar gosip yang mengatakan bahwa Wookie menjalin hubungan dengan Manajernya, Kim Jong Woon. Minnie langsung memindahkan chanel tv yang membicarakan tentang gosip itu. “Tenanglah, Kyuhyun. Kau percaya pada Wookie, kan? Ia sangat mencintaimu, tak mungkin mengkhianatimu,” Ucap Minnie sambil menyisir rambut Kyuhyun. “Menjadi seniman terkenal seperti itu memang rentan gosip. Kau dapat memahaminya, kan, Kyuhyunnie?”

Sementara itu,

“Yah! Apa-apaan ini? Mengapa menciptakan gosip yang tidak-tidak mengenai aku dan Wookie?” Tanya Jongwoon, manajer Wookie, pada Lee Soo Man, salah seorang pemimpin rumah produksi tempat Wookie menjadi artis *mianhae Om Sooman*.

“Tenanglah, Jongwoonnie.. Ini ditujukan untuk mengangkat nama Wookie. Sudah wajar, sebagai entertainer digosipkan seperti ini..” Ucap pemimpin rumah produksi mereka.

“Aku tak terima ini!” Seru Jongwoon dengan nada marah.

Jongwoon sudah jengkel dengan perkataan Lee Soo Man. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Dalam hal ini posisi Jongwoon sebagai bawahan. Ia keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya. Ia pergi ke apartemen Wookie untuk membicarakan tentang masalah itu.

“Sebenarnya tak masalah bagiku, toh itu hanya gosip, kan?” Ucap Wookie dengan tenang, ketika Jongwoon sudah sampai di apartemennya.

“Jadi kau membela mereka?” ucap Jongwoon dengan nada meninggi.

“Bukan begitu, Oppa...” Ucap Wookie. Dua tahun bekerja sama, gadis itu merasa sudah dekat dengan sang manajer, maka dari itu ia memanggilnya Oppa.

Ia menghampiri Jongwoon dan merangkulnya, “Pada kenyataannya kan tidak seperti itu! Aku memanggilmu ‘Oppa’ karena kita memang sudah dekat, seperti Oppa-Dongsaeng. Jadi kurasa kita tak perlu menghiraukan hal itu.” Jelas Wookie.

Jongwoon terdiam sesaat. “Kau begitu baik, Wookie ah..” Ucapnya pelan. Telah lama ia merasakan kebaikan Wookie. Ia tak pernah mengeluh meskipun jadwalnya sangatlah padat. Bila ada beberapa fans yang melukainya, Wookie pun tidak menghiraukan rasa sakit itu. Ia tetap tersenyum dan menyapa semua fansnya. Begitu pula dengan kesetiaannya pada Kyuhyun. Semakin lama bersama Wookie, membuat Jongwoon diam-diam menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar partner kerja, bahkan oppa-dongsaeng, terhadap Wookie. Namun ia menyadari hal ini tidaklah mungkin. Wookie terlalu mencintai kekasihnya. Bahkan sampai Cho Kyuhyun koma selama 3 tahun, ia masih tetap mencintai Kyuhyun. Itu juga yang membuatnya menolak gossip buatan Lee Soo Man. Ia tidak mau membuat dirinya semakin jatuh cinta pada Wookie.

“Ya, Oppa? Apa yang kau katakan?” tanya Wookie, yang mendengar sesuatu dari mulut Jongwoon.

“Ti, tidak.. lupakan...” ucap Jongwoon beranjak dari tempat duduknya.

Wookie ikut beranjak sambil memegang lengannya. “Oppa begitu baik,” Ucap Wookie tersenyum pada Jongwoon. “Kalau aku boleh tahu, apa yang membuatmu menolak usulan ketua?” Tanya Wookie. Ketua yang ia maksud adalah Lee Soo Man.
“Itu… aku tidak mau membuat Kyuhyun tersakiti…” Jongwoon menunduk.
Wookie menggenggam kedua tangan Jongwoon, “Kyuhyun akan baik-naik saja…. Lagi pula ini hanya pura-pura, kan?” Ia menatap mata manajernya.
Tanpa Wookie sadari, aliran darah Jongwoon terasa semakin cepat. Ia merasa, bila tidak segera melepaskan tangan Wookie, mungkin beberapa saat lagi ia akan memeluknya.
“Kita cukup seperti ini…” Wookie memeluk tangan Jongwoon yang kuat. “Dan semua orang akan berpikir kita memang berpacaran…” Ucapnya sambil tertawa.

“Wookie ah...” panggil Jongwoon. Wookie menengadahkan kepalanya sehingga mata mereka bertemu. “Selama Kyuhyun koma, maukah kau menjadi kekasihku? Untuk menyenangkan hatiku saja...” Ucapnya lirih.

“O.. Oppa.. maksudmu hanya untuk media saja kan?” tanya Wookie, gugup, sambil melepaskan pelukannya, namun tangannya diraih oleh Jongwoon.

“Tidak, aku serius. Kau tahu, aku jatuh cinta padamu,” Ucap Jongwoon.

“Tidak Oppa.. aku.. mana mungkin aku menjadi kekasihmu, Kyuhyun....” Wookie mencoba melepaskan tangannya dari tangan Kyuhyun.

“Kumohon... setelah Kyuhyun sadar, kau boleh memutuskanku dan bersamanya lagi..”

“Ta... tapi... Oppa.. ini....” Wookie terbata dalam mengucapkan kalimatnya.

“Ini tahun ketiga dia koma, kan? Apa kau yakin ia akan bangun kembali?” tanya Jongwoon. Kata-katanya membuat tubuh Wookie lemas dan jatuh terduduk ke lantai. Dari matanya, menetes butiran-butiran air mata. Jongwoon terkejut dengan apa yang telah ia katakan pada gadis yang ia cintai. Kata-kata itu telah menyakitinya. Ia merasa apa yang dia ucapkan sangatlah picik. “Maafkan aku... Lupakan saja,” Ucap Jongwoon, hendak melangkahkan kaki ke arah pintu. Namun kemudian ia berbalik, “Kalau setelah malam ini kau membenciku, aku tak keberatan. Aku siap kalau kau ingin memecatku sebagai manajermu,” Ucapnya, melanjutkan langkahnya.

Wookie memikirkan segala hal mengenai Jongwoon yang begitu baik. Setiap ia menjenguk Kyuhyun, yang menemaninya adalah Jongwoon. Sekalipun Wookie menemani Kyuhyun sampai keesokan paginya, Jongwoon tetap setiap menunggunya. Saat ia hampir putus asa karena Kyuhyun tidak menunjukkan kemajuan, Jongwoon pulalah yang menyemangatinya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa segala hal yang dilakukan Jongwoon memiliki dampak besar terhadap dirinya dan apa yang ia lakukan untuk Kyuhyun tidak akan pernah terwujud tanpa manajernya itu. Wookie sendiri tidak tahu sejak kapan Jongwoon menaruh perasaan padanya, yang pasti, itu akan sangat menyakitkan bila mengetahui yang ia lakukan terhadap Wookie semata untuk orang lain yang Wookie cintai. Tiba-tiba, Wookie merasa takut kehilangan Jongwoon. Ia menatap punggung laki-laki yang sebentar lagi akan meninggalkan ruangannya. “O,, Oppa...” Panggil Wookie ditengah isakannya. “Jangan tinggalkan aku...” Ucapnya.

Jongwoon menghampiri gadis itu. Ia membantunya untuk berdiri. Tiba-tiba-tiba saja, Wookie memeluknya lagi. Tangisannya meledak di dada Jongwoon. Ia membelai rambut panjang gadis itu. “Maafkan aku, Wookie ah..” ucapnya.

“Maafkan aku juga, Oppa.. Aku tak pernah menyadari pengorbananmu selama ini...” Batin Wookie. “Kalau benar kau mencintaiku, kau pasti sangat sedih karena setiap saat harus mendengarku yang selalu menceritakan tentang Kyuhyun yang sedang koma, tentang masa lalu kami, bahkan menemaniku di rumah sakit. Aku ingin membalas kebaikanmu itu, tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Aku ingin membuatmu senang, tapi apa yang dapat aku lakukan? Haruskah aku menjadi kekasihmu? Apa hanya itu yang dapat membuatmu bahagia?” batin Wookie. Ia melepaskan pelukannya dari Jongwoon. “Oppa, terimakasih karena selama ini telah menemani dan menjagaku. Aku akan membuat Oppa senang.. Apapun yang Oppa mau akan ku penuhi, termasuk menjadi kekasihmu,” Ucap Wookie.

Jongwoon terkejut, “Kau mau menjadi kekasihku?” tanyanya. Wookie mengangguk. Jongwoon memeluk gadis itu. “Terimakasih, Wookie ah... Aku senang. Meski tak bisa selamanya, aku tetap senang!” Ucap Jongwoon sambil mempererat pelukannya.

Malam itu, Jongwoon memutuskan untuk menemani Wookie di apartemennya. Paginya, barulah ia pulang, tentunya setelah Wookie bangun.

Betapa terkejutnya Jongwoon saat keluar lift. Banyak wartawan ada di sana dan langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Jongwoon mencoba meloloskan diri dengan susah payah. Para wartawan terus mengejarnya.

Jongwoon berlari ke luar gerbang sampai ia hampir tertabrak sebuah mobil sedan putih yang modelnya agak kuno. Ia mengetuk kaca mobil yang berhenti mendadak karena ulahnya. Si pengemudi membukakan kunci pintu mobil itu dari dalam, kemudian kembali menjalankan mobilnya setelah Jongwoon naik.

Jongwoon bernafas lega, “Kamshamnida...” Ucapnya.

“Nde.. Kau? Manajernya Wookie, kan?”

“He?” Jongwoon terkejut melihat ke arah pemilik mobil yang ternyata seorang perempuan cantik berpakaian rapih, dengan rambutnya yang berwarna coklat kepirangan.

“Lee Minnie Imnida...” Ucap Minnie sambil tersenyum.

“Aku ingat.. kau sahabat Wookie, kan? Minnie Sshi? Terimakasih telah menyelamatkanku!” Ucapnya.

“Kau, mengapa ada di apartemennya Wookie sepagi ini? Gosip tentang kau dan Wookie tak benar, kan?” tanya Minnie bertubi-tubi.

“Ehm... soal itu...” Jongwoon terdiam.

“Jadi itu benar?” Minnie menebak.

“Sampai tadi malam, hal itu hanya gosip...” Jongwoon menjawabnya dengan lemah. Ia merasa mungkin saja gadis itu akan marah padanya, mungkin juga pada Wookie. Tapi ia sendiri yakin, tentang hal ini, Wookie tak akan bisa berbohong pada sahabatnya yang satu ini. Minnie terlalu mengenal Wookie. “Tapi saat Kyuhyun sadar nanti, Wookie akan memutuskanku, jadi kau tak perlu khawatir, Minnie Sshi..”

“Haish... Jinjja! Turunlah dari mobilku!” Minnie menyisikan mobilnya dan berhenti. “Kurasa mereka sudah tidak mengikutimu”.

Dengan terpaksa, ia turun dari mobil itu. “Terimakasih atas bantuannya!” Ucap Jongwoon. Minnie tak mengubrisnya dan langsung pergi.

Sepeninggalan Minnei, Jongwoon masuk ke sebuah mini market dan membeli koran di sana. Setelah itu, ia menyetop taxi. Di dalam taxi, ia menelepon Wookie agar ia tidak keluar dari kamarnya, karena banyak wartawan ada di sana.

Ia berhenti di depan rumah mewahnya setinggi 2 tingkat. Pagarnya terbuat dari kayu, namun bagian dalamnya didominasi oleh warna putih dan kaca. Dekat teras belakang, ada sebuah danau buatan. Ia duduk di pinggir danau sambil membaca koran yang tadi ia beli.

“Haish! Mereka mengambil foto saat aku ke apartemen Wookie!” gerutunya sambil melempar koran itu ke sembarang tempat. Ia meninggalkan tempat itu, dan beralih ke kamarnya. Televisi ia nyalakan. Lagi-lagi ia melihat berita tentang dirinya, yang menginap di apartemen Wookie. “Yah!” Teriaknya. Ia mematikan televisi dan melemparkan remotenya.

Jongwoon berbaring dan memeluk gulingnya, “Ayah, Ibu, maafkan aku.... Aku telah mencemarkan nama baik keluarga...” ucapnya dalam hati. “Aku memang mencintai Wookie, tapi ini mungkin cara yang salah. Apa aku harus membatalkan hal ini sekarang juga? Membebaskan orang yang aku cintai?” pikirnya.

Handphonenya berbunyi. Jongwoon mengambilnya melihat nama Lee Soo Man di sana. “Yeobsaeyeo?”...”Bisakah besok atau nanti malam saja aku pergi ke sana? Sekarang keadaanku sedang tidak baik,” Ucap Jongwoon. “Baiklah, nanti malam,” Ucap Jongwoon dengan terpaksa.

Sementara itu di rumah sakit, “Tidak boleh... kau tidak boleh menyaksikan acara ini! Kau tidak boleh percaya dengan apa yang ada di berita!” Racau Minnie, tak beraturan. Jarinya sibuk menekan remote, namun semua stasiun televisi sedang memberitakan kehebohan yang terjadi antara Wookie dan manajernya. Akhirnya ia mematikan televisi dan tertunduk di samping tempat tidur Kyuhyun sambil menangis, “Kau tak boleh percaya ini, Kyuhyun ah... Yakinlah, Wookie tetap mencintaimu. Hatinya hanyalah untukmu!” Ucapnya sambil terisak.

Malam hari, Jongwoon pergi ke rumah produksi. Di ruangan itu, ada sekitar 5 orang pejabat dari rumah produksi itu, sekaligus Lee Soo Man, sang pemilik, dan yang mengejutkan, ia melihat Wookie ada di sana.

“Bukankah sudah kubilang, jangan pergi ke luar?” Ucap Jongwoon. Wookie hanya menunduk.

“Yah, Kim Jongwoon!” bentak Lee Soo Man. “Kau mengerti aturan mainnya, kan? Kau seharusnya membina hubungan yang profesional dengan artistmu, bukannya malah begini!”

“Terserahlah apa maumu, Lee Soo Man Ssi! Kemarin kau menyuruh kami untuk beracaran, sekarang malah dilarang! Apa maumu?” Jongwoon tak bisa menahan diri lagi. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun.

“Baiklah, karena kau dan Wookie telah melanggar kontak kerja, aku harap kalian mau menerima sanksinya,” Ucapnya. “Wookie, kau dipecat dari manajemen ini,” Ucap Lee Soo Man.

Wookie terkejut mendengar itu. Bila ia dipecat, bagaimana ia mendapatkan uang untuk biaya Kyuhyun? Air matanya mulai menetes.

“6 bulan ‘Tour Asia’nya akan dimulai, Kau harus membayar kerugian pada promotor bila membatalkannya karena memecat Wookie!” Jongwoon mulai melunak.

“Aku belum menandatangani kontrak dengan promotor manapu,” Ucap Lee Soo Man dengan angkuhnya.

Jongwoon kehabisan kata-kata. Ia diam sejenak. Tangannya mengepal. Kemudian ia berkata, “Mengapa Wookie yang dipecat? Dalam hal ini, aku yang bersalah,” Ucap Jongwoon.

“Kau ini manajer, ahli dalam berbagai hal. Kau bisa menyanyi dan menari, mana mungkin kami memecatmu. Namun artist seperti Wookie, masih banyak bintang lain yang akan bersinar,”

“Piciknya!” Ucap Jongwoon.

“Ini dunia bisnis... Namun bila kau ingin pergi, pergilah, dan aku akan mempertahankan Wookie,” Ucap lelaki tua itu.

“Baiklah, aku keluar!” Ucap Jongwoon tanpa berpikir panjang, sambil meninggalkan ruangan itu.

“O..Oppa....” Wookie mengejarnya ke luar, namun tak terkejar. Akhirnya Wookie menyetop taxi dan pergi ke rumah sakit.

Kyuhyun, dalam mimpinya, ia melihat seorang gadis berambut coklat kepirangan. Rambutnya panjang sepunggung. Gadis itu tertunduk dan menangis sambil terus memanggil namanya.

Sementara itu dalam kenyataan, Wookie sampai di rumah sakit dalam keadaan menangis. Begitu datang, ia langsung memeluk Minnie. Minnie tak membalas pelukannya.

Setelah Wookie melepaskan pelukannya, ia menatap Minnie yang pandangannya dingin. Hal itu membuat Wookie takut.

“Kau, apa benar kau telah berpacaran dengan manajermu?” Tanya Minnie.

“Kau? Kau tahu? Siapa yang memberi tahumu?” tanyanya.

“Tak perlu tahu!” Ucap Minnie dengan penekanan.

“Y, ya... itu memang benar, Minnie ah...! Tapi kami tak akan melanjutkan hubungan kami,” Jawab Wookie lirih.

“Teganya kau mengkhianati Kyuhyun!” Bentak Minnie dengan suara tertahan, sambil terisak.

“Maafkan aku..” Ucap Wookie dengan air mata. “Tapi ini semua sudah berakhir,” Wookie memegang kedua bahu Minnie. “Minnie ah, pulang lah... Kau tampak lelah. Biarkan aku yang menemani Kyuhyunku...” Ucapnya.

Minnie menurut dan pulang ke rumahnya.

*TBC*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar